Memasuki hidup pada taraf “Capek diomongin orang “

Yang namanya kehidupan memang selamanya terus dan akan terus berjalan,beriringan berkesinambungan dengan yang namanya waktu, karena hidup kita terikat oleh waktu dan bukan mengikat waktu.
Dan waktu memang banyak menyumbang asih kan sebuah cerita disekitar kita. Cerita kehidupan kita. Menjadi apa kita dan pencapaian kita.
Saya dibuat kesal dan bengal dengan opini miring yang memang sudah kodrat dari pencipta bahwa saya diciptakan dengan muka yang sedikit tak enak dipandang, seperti rasa asem yang memang asem. Tapi nggak juga lah, saya pun ingin mengindahkan nikmat tuhan yang mana muka saya nggak asem asem banget,, bahwa terkadang saya itu apel hijau, asem yang sedikit manis. Penilaian orang sudah buruk terhadap muka saya pun seolah ingin disempurnakan dengan hak praduga mereka bahwa muka buruk pasti attitude buruk, dan attitude menjadi momok masalah yang mengganjal sampai saat ini untuk saya pribadi menjadi manusia baru dan melangkah ke halaman hidup yang baru, seolah saya di stuck kan pada halaman halaman hidup yang itu itu saja. saya sendiri nggak tahu. Saya merasa bahwa ketika saya dimarahin orang dengan amarah penuh dan tutur kata yang tak enak didengar terlontar “, nggak bentak gimana, liat muka mas aja begitu”.. itu seolah saya mendapat tamparan keras untuk mental saya dan juga seolah saya diberi cermin untuk sebentar saja berkaca pada diri sendiri. Hasil renungan itu pun memberikan dampak banyak, melakukan setiap orang lain seperti melakukan ke diri saya sendiri, dan mengumpamakan diri saya di posisi mereka para orang lain. Dengan perubahan yang menurut saya banyak pun saya masih dibilang sombong dan tak berattitude baik, saya capek. Sampai akhirnya saya berujar “hidup sudah mulai memasuki pada taraf capek diomongin berdasarkan opini orang,” dan itu membuat saya down. Seolah cap buruk itu sudah melekat erat pada diri saya. Dan untuk hidup “jangan dengerin apa kata orang’ itu susah buat saya.
Ada supervisor yang merangkap sebagai teman sekaligus teman nongkri dan teman bagi masalah semuanya predikat yang melekat yang pernah saya tau, aldy surya putra nama lengkapnya, beliau adalah orang pertama yang senantiasa mensupport, memperbaiki, memberi tahu, dan menasehati apa yang menurut orang lain buruk justru ia dengan senang hati. Sekedar untuk mampir di nasi goreng dan bercerita. Kasih cermin kecil untuk berkaca pada diri sendiri. Dan kebaikan kebaikan lainnya yang sampai detik ini saya tak pernah dituntut balik yang saya bilang beliau tak perhitungan untuk seorang teman. Dan tak jarang saya dibuat mikir sampai tak bisa tidur, dibuat terenyuh dengan dibeberkannya segala kekurangan, dan sedikit dibuat bangga dengan kelebihan.karena setiap manusia pastilah memiliki kelebihan dan kekurangan , itu pasti. Dan banyak terharu karena sampai detik ini saya tidak tahu kenapa beliau kok care dan aware. Tujuannya tidak lain membuat saya menjadi pribadi yang lebih baik, dan disitu, kadang saya merasa berterima kasih. 

Advertisements

just lil bit of shhhhhh

Sepagi ini gue ingin bercerita tentang komplikasi yang tengah menerpa seorang calon mahasiswa yang nggak jelas ini , nggak jelas dalam artian dia bakal jadi mahasiswa beneran atau enggak, ya gitu deh.

Dalam pekerjaan gue lagi ada masalah nih, temen gue bilag sih wajar dan udah hal biasa banget yang namanya kaya gitu dalam pekerjaan, dan gue pun berusaha menyikapinya dengan biasa aja, tapi ada kesimpulan kesimpulan lain yang muncul dengan tiba tiba, diantaranya adalah orang audit, kenapa gue bisa aneh? Lo pasti ga bakal nyangka kan sama orang yang baik didepan mata, traktirin lo makan, jajan diluar, ya layaknya teman biasa, tapi nusuk , cara dia kerja itu kalo kata temen gue ya TOLOL banget, deskripsi tololnya begini, orang kaya jaman sekarang itu tolol, kaya manager, bos dan kepala kepala deh, coba pikir sama lo deh han, ngapain mereka marahin bawahan di depan umum, yang ada bukannya malah memeperbaiki situasi tapi ngejatohin harga diri si bawahan, kalo dipikir pikir iya juga kan. Kalo memang orang yang bener bener ngerti sama rute kerjaan dan cara menyikapinya sebagai orang yang berpendidikan ya seharusnya nggak macam bos bos kaya dipasar. Gimanapun juga yang namanya bawahan kan juga turut berperan aktif dalam berlangsungnya sistem kerjaan tersebut, emang kepala kepala mau kerja sendiri, eek!

Balik lagi ke soal gue, iya gue yang nggak nyangka banget tuh sama orang audit, ya seenggaknya lah bisa diselesaikan dengan cara kekeluargaan ,temen yang asik, kan jalan keluar juga bareng, mbok ya tanya dulu lah, secara reputasi counter yang gue tempati sedang terpuruk reputasinya, sedang diterpa masalah terus, belum lagi managernya yang bermuka suneo, asli bikin badmood tiap kali nongol, bossy banget dia. Udah kaya boss banget, you know bossy kan. Banyak yang nggak suka ama dia. Serius . demi tuhan! Bahkan. Anak anak training yang baru pun sudah bisa menyimpulkan dan respon dia saat pertama kali ketemu sama beliau. Berarti penilaian gue ke orang tersebut objektif dong, lanjut lagi. Iya ya, sekitar pertengahan sore mnuju malem gitu dia update kesalahan di counter gue sementara yang pada saat itu memang gue yang megang duit. Gue langsung down dong. Gila ni orang, nggak ada angin nggak ada ujan tau tau petir datang. Kasih mendung dulu kek. Jadi bisa persiapan , seenggaknya ya, kita kan temenan atau pura pura temen, tanya dulu ke gue baik baik, ‘eh, lo ada salah ya di tanggal ini, bulan ini, tahun ini’ kan gue bisa cari cari lagi, “oh gitu ya, hmm bentar bentar, iya kayaknya deh mba. Terus gimana ya. Sebentar.. gini aja” kan asik. Gitu doang kan. Asli sumpah demi tuhan , dia itu niatnya apa sih, cari muka, biar keliatan kerja apa gimana sih. Yang namanya manusia pastilah punya kesalahan , tapi bukan berarti dong, karna kesalahan yang ia buat ia tak berhak memperbaiki udah langsung suruh caw aja, jangan gitu lah, jangan mentang mentang dosen yang relatifnya pinter, tapi kalo nggak asik mah tetep aja banyak yang nggak suka .

Dari sini gue pengen mengaitkan dengan apa yang dibilang sama bang toni sewaktu kongkow di warung kopi , dia. Bisa jadi orang baru terAsik yang pernah gue kenal . begini “gue sewaktu di PHD ngelamarnya kan jd delivery, terus naik tingkat jadi koki, yang namanya biki pizza, setinggi lemari itu gue pernah bray. Eh, katanya kan lo bentar lagi jadi admin ya. Lo tau istilah istilah ini nggak? Gue dengan polosnya bilang nggak tau. Beliaupun dengan santainya bilang “nanti lo pasti tau deh.’ Ya gitu gitu sih, pernah belajar di admin, kasir juga, gue orangnya mau belajar . apalagi kalo yang dimintai pelajarannya orangnya asik, lo deketin deh “’, jadi kesimpulannya mas, mbak, pak. Mbak audit saya bukan orang yang asik udah itu aja.

influence by friend(s)

Pernah nggak lo punya temen yang memberikan pengaruh , boleh besar ataupun kecil intinya memberi pengaruh.gue mau bercerita tentang apa yang sudah terjadi dalam kehidupan gue beberapa belakang ini yang sepertinya krisi identitas, maklum, mendekati dewasa muda, ada kelabilan kritis terjadi pada identitas, antara gue mau jadi apa ya? Dan seperti kehilangan arah karna gue nggak tau harus mulai darimana, dan disaat seperti inilah bisa jadi peran teman itu sangat dibutuhkan, gue tumbuh besar dilingkungan yang sepertinya monoton dalam pertemanan, ya itu itu aja temen lo, dan disaat gue menyadari bahwa temen gue itu usianya udah 26,, sementara gue masih 20 awal yang mendekati pertengahan, gue jadi mikir, ruang lingkup hidup beliau hanya sebatas pekerjaan dan temen paling dunia maya, di kenyataan temennya dikit, dan bisa dibilang saat libur pun tempat yang dikunjungi ya itu itu aja, sungguh membosankan bukan? Gue berkaca sebentar untuk sekedar merenungi bahwa gue nggak mau di usia gue nanti yang ke 26 itu hidupnya monoton , pergaulan nya sebatas itu itu aja, dan dari situlah gue mulai mencari yang namanya teman di luar pekerjaan gue, beberapa gue nemu, awalnya gue mikir, gue nggak punya basic dalam nyari teman, jangankan buat dapet temen baru, cara gue mendekati seseorang buat jadi temen aja gue yang masih canggung banget,

Beberapa belakangan ini hidup gue kehilangan arah.

Ada satu hal yang membuat gue nggak peduli lagi sama hidup ini, diantaranya minimnya lingkup pertemanan yang membuat gue setiap libur itu bete, nggak ada yang mau ditanyain dan nanyain. Terus beberapa kenyataan di diri gue yang sebenernya gue nggak mau menerima, yang dimana setiap orang pasti enggak mau buat menerimanya, salah satu kekurangan yang sumpah demi tuhan bikin gue pengin marah ke tuhan, WHY ME??? I think, with i am asking him with this question isn’t answer anything. In the end, the realize just “I GOTTA ACCEPT’ dengan menerima gue belajar pasrah, pasrah dibawah segala galanya jenis pasrah.mungkin dibeberapa kata motivasi buat menyangkal ketidak adilan dimana WHY ME?? Adalah TRY ME, seolah menunjukan ketegaran si pihak yang bersangkutan dan ia siap diuji coba hidupnya, it’s oke. TRY ME. Gue yakin, setiap orang pasti hidupnya nggak hanya dilewatkan dengan satu periode aja, setiap orang pasti pernah berada pada periode tertentu, termasuk gue, gue pernah sampai pada kenyataan hidup di periode bahwa gue sedikit atheis, hanya karena definisi gue tentang ketidak adilan tuhan terhadap gue, dimana gue sedikit nakal, bisa dibilang, kenapa nakal? Soalnya gue yakin ini bukan gue yang dulu, ataukah ini gue yang baru. Dulu gue yakin akan terwujudnya sebuah mimpi, mimpi gue ga nanggung nanggung di satu mimpi aja, tapi banyak. Dan gue menggantungkan itu semua di bahu tuhan dengan gue selalu bersandar pada setiap doa yang kujabar dalam setiap perjumpaan ditiap waktunya. yang dibelakangan terkahir ini jarang lagi kujumpai tuhan, hanya karena gue masih marah.

Semua yang kubuthkan hanyalah teman, lebih dari itu SAHABAT.

Sahabat itu banyak definisi, seperti hidup dan printilan printilannya pun banyak definisi, begitu komplikasinya hidup ini , semua punya definisi tersendiri, teman gue pernah bilang. “nyari temen itu nggak susah, yang susah itu nyari sahabat, nyari temen lo tinggal keluar, ada orang di halte, lo pinjem korek buat ngerokok, lo tawarin dia rokok, lo mulai percakapan, mau kemana ? tinggal dimana? Bisa jadi temen ngobrol, kalo bisa jadi temen curhat. Nah nyari sahabat itu yang susah, sahabat itu temen yang mau diajak susah” pada akhirnya gue tahu, bahwa dibalik kehilangan arahnya gue adalah karna saking banyaknya ruang kosong yang sebenernya bisa dijadikan dan dimanfaatkan dengan kehadiran teman teman baru serta pengetahuan baru yang bisa mendorong gue, memotivasi gue, menjadikan geu lebih baik dari hari ini, nggak melulu membicarakan kekurangan gue yang dengan terpaksa gue hanya bisa menerima, justru mungkin bener kata bio temen di instagram “the less is more’’ bahwa bisa jadi, kekurangan gue ini adalah suatu kelebihan yang sebenernya gue bisa cerna, tapi iya juga sih, kayaknya kalo gue nggak punya kekurangan seperti ini, gue nggak bakal mikirin hidup sejauh itu sampai lupa akan eksistensi tuhan, semuanya telah kembali, berangsur angsur membaik dengan kehadiran teman baru, yang dengan berharap dia bisa menjadi sahabat gue, satu satunya teman yang hadir disaat dia susah, teman yang senantiasa membuat gue introspeksi diri, tau diri, dan jangan menyepelekan pergaulan. Satu satunya teman yang ngajakin kuliah yang dimana setiap ceritanya membuat gue berfikir, teman yang memberi tahu rule hidup bahwa lo bisa lebih dari ini.eksplorasi.improvisasi. iya, saya siap melangkah ke level baru, level yang sempat hilang. Level dimana gue jadi pengin kuliah, perjalanan hidup gue masih panjang, rasanya terlalu sayang kalau hanya dihabiskan dengan keluhan. Everybody have a less. I sure! Itu tergantung bagaimana dia bisa menyikapi kekurangan itu. Saya siap melangkah buat #NAIKIN HIDUP LO

100% I do it for “Being Friend” in a real meant

Setiap orang pasti punya sahabat karib, temen nongkrong, teman lama, teman main dan teman hidup, adapula teman yang hanya ada maunya baru ngaku teman, pada urutan teman terkahir , saya punya banget…. dan merasakannya lagi di baru baru ini.

Saya pribadi sebagai manusia saya pasti butuh kehadiran seorang teman yang sekiranya bisa dimintai pertolongan ,entah hari ini, esok atau bahkan lusa. Tapi bukan hanya pertolongan saja, jika teman (maya) saya ber update status, “teman itu investasi dimasa depan”. Yang namanya investasi ya pasti ada yang diharapkan. Saya tak menyangkal arti teman dari definisi itu. Kadangkala pun saya ingin mempunyai banyak teman adalah untuk masa tuanya tak kesepian. Menikmati hidup dimasa muda dengan teman adalah salah satu cerita paling menyenangkan yang akan bisa dikenang dimasa tua. Seenggaknya mudanya nggak kesepian. Tapi saya punya sudut pandang berbeda mengenai arti teman itu sendiri. Saya belajar makna itu dari beberapa teman hindu saya, dan juga kakak tercinta saya yang sekaligus anak sulung di keluarga saya.

Teman hindu saya mengajarkan segala hal yang berbau tanpa pamrih, kalo di bahasa inggrisnya “Unconditionally” unconditionaly sendiri buat saya mempunyai arti yang sangat mendalam, tentang bagaimana seseorang yang memberi tanpa berharap, itu pastinya sulit, selalu ada saja yang diharapkan dari apa yang sudah kita berikan.. belajar ikhlas memang seumur hidup, dan saya dalam proses belajar. Pernah di dialog suatu ketika di layar hijau aplikasi bernama “LINE” ia sendiri mengatakan bagaimana hidup berjalan kadang diluar dugaan. Dan bagaimana cara menyikapi dengan bijak. Bijak itu banyak definisi. Tapi satu definisi dari teman saya tersebut buat saya sudah cukup menartikan bermacam macam definisi bijak tersebut.

Kakak sulung saya membuat saya termenung seketika ia bercerita cukup menyedihkan kala saudara saya sedang dioperasi kakinya karena penyakit diabetes dan ia tak disampingnya , kurang lebih begini “ saya itu ngerasa bersalah banget jadi saudara, bagaimana tidak?, saudara saya sedang kena musibah saya yang saudaranya semestinya ada di sampingnya,tapi nggak bisa karna sibuk, jd apa yang saya kasih ke dia semoga bisa menutupi rasa bersalah saya.kaya kamu han, kalo ada masalah, kamu jangan pendem sendiri, kamu cerita ke kakak, saya itu punya tanggung jawab atas adik adik saya mengingat orang tua kita sudah tua, dan saya sebagai anak tertua, kalo ada masalah cerita kita selesein bareng bareng, kapanpun, sekalipun kakak lagi kerja akan diupayakan “selalu ada waktu “ , seketika terenyuh… suasana mendadak haru. Saya menaruh decak kagum yang luar biasa, saya tarik kesimpulan, bahwa sikap kakak saya akan coba saya practice . bukan hanya ke keluarga tapi untuk mereka mereka yang menjadi bagian dari kehidupan, menjadi manfaat bagi orang lain nggak ada ruginya, sekalipun merasa tersakiti, selalu ada karma. Ntah kenapa? Dulu . saya nggak terlalu percaya sama karma. Tapi lagi lagi teman hindu saya membagi sedikit banyak tentang karma, bahwa karma tidak hanya buruk tapi ada karma baik, ibaratnya ‘ apa yang kita tuai adalah apa yang kita tanam,.

 

Semoga tak ada benci, karna “BENCI “ adalah penyakit hati yang paling saya hindari..

 

Semoga tak ada benci tertanam dihati, sekalipun ia datang seringnya menghampiri dengan kekecewaan, penuh keloyoan jika sekalinya tersentuh.kebohongan atau pengkhianatan. Beberapa hari ini mungkin kopi pahit adalah sarana pelampiasan favorit saya bahwa hidup tak ada yang lebih pahit dari kopi pahit. Sepahit merasakan dari sebab akibat hadirnya penyakit benci itu sendiri. Kadang lebih enak menelan kopi pahit sambil membayangkan beberapa kisah pilu di chapter hidup, rasakan dan resapi.. kenapa kopi pahit. Karna hidup sudah banyak menawarkan kemanisan, seperti ”sesempurna apapun kopi yang kamu buat, kopi tetaplah kopi, yang memiliki sisi pahit yang tidak akan mungkin bisa kamu sembunyikan”, dari kopi saya belajar cukup untuk memahami bahwa hidup bukanlah hanya untuk merasakan beberapa kebahagiaan, namun sisi pahitnya juga, dengan begitu ia memiliki warna.tapi…. guru komputer saya pernah bilang “ rasa sakit atau pahit atau entahlah apa namanya dari hidup yang tidak mengenakan itu seperti paku, jika sekalinya ia ditancapkan ke kayu, sekalipun kayu sudah memaafkan lalu pakunya dicabut, akankah bekas paku dikayu itu hilang?, jawabannya NGGAK. Gambarannya seperti itu.

 

Some friend(s) tell me

“ lo bisa nya koar koar di dunia maya doang kenyataannya lo nggak bisa ngomong. Saya aneh, kenapa nggak setiap orang punya pemahaman seperti saya ya, bahwa manusia itu kaya salah satu albumnya bruno mars “Doo Woops and Hooligans “ bahwa manusia itu nggak hanya punya satu sisi saja, selalu punya dua sisi. Sediam diamnya orang pasti ada sisi cerewetnya juga, setegar tegarnya orang pasti pernah break down juga, sebaik baiknya orang, pasti punya sisi jahat. Itu balik lagi ke kontrol mereka masing masing. Bahwa saya tak sediam arca, dikenyataan saya lebih suka mendengar kemudian meng’iya’kan dengan sekelumit imajinasi yang bisa saya serap, apabila tertarik, saya akan cari lebih informasinya di google, ini seperti tentang film mursala yang teman batak saya ceritakan, saya tertarik, jargonnya melankolis, agak nyelekit, dan itu realita “ketika cinta melawan adat” saya mungkin hanya mengiyakan dengan kata “oh…’ kemudian “Ooooh…” sesekali dengan anggukan, mungkin si pencerita agak kesal dibuatnya karna responnya tak seheboh syahrini tiduran di salah satu gunung di italia, tapi tenang… saya paham kok. Selain penikmat kopi, saya juga penikmat cerita hehehe

 

 

Sibuk. Semua Terasa tak lagi sama

Pernah menyadari nggak?, di era ini, di dewasa kita banyak sekali menemukan kemudahan kemudahan untuk berinteraksi dengan siapapun di jagat raya ini hanya dengan menginstal aplikasi jejaring sosial, membuat akun kemudian posting sebebas bebasnya, bebas dalam artian definisi masing masing ya, saya pribadi mempunya banyak akun di beberapa jejaring sosial. Dan jejaring sosial itu yang mengantarkan saya untuk mempunyai kesempatan berteman dengan siapapun di dunia ini, yang tadinya dari indonesia ke amerika atau kanada atau negara di seberang jauh sana jaraknya terasa jauh jadi terasa dekat karna adanya media sosial ini. Tapi? Hal yang demikian itu sangat membosankan pada waktunya. Apalagi sekarang, jejaring sosial kian menjamur, perkembangannya pun sudah bukan hanya dirasakan oleh orang pinggiran kota, tapi sampai ke pelosok pelosok desa. Dimana mereka yang masih dengan polosnya memposting beberapa hal polos yang mungkin di mata kita itu terbilang maaf NORTH RACK a.k.a Norak!!!. Bukan memihak atau menghakimi mereka untuk tak berhak menikmati dunia yang era nya sudah digital ini , tapi apa yaaa ya itulahhh…
Tapi bukan hal itu yang akan menjadi pembahasan gue *yah gagal juga nulis pake “saya”*. Jadi gini, diantara beberapa akun media sosial ini yang paling sering gue kunjungi adalah facebook, karna itu dasar dari semua jejaring sosial media yang pertama kalinya gue miliki *bukan friendster ya, keliatan anak lamanya…. errr. Dulu, jaman sebelum punya facebook , gue pun sama kaya anak lainnya, yang happening apa apa lewat sms, mulai dari minta minta nomer hape, sampe nomer nyasar, dan biasa ada orang kurang kerjaan tulis nomer hape di uang kembalian jajan, dan gue pun yang kurang kerjaan di sms deh tuh nomor, pertamanya sih misscalled, setelah nyambung baru di sms.seiring dengan perkembangan jaman, akhirnya ganti deh tuh hape.hasil keringat sendiri juga, , dan salah satu aplikasi jejaring sosial media yang dari korea selatan itu memang tak mengharuskan kita untuk mengadd akun dia buat jadi teman. Secara langsung akan jadi teman apabila kontak di hape kita mempunyai aplikasi yang sama. Daaan. Ada salah satu nomer nyasar yang gue dapet dari salah satu radio beken di jakarta,. Begini ceritanya…

“Waktu itu, ada SMA keren di jakarta lagi ngadain pensi, dan bisa hubungi nomer 087778887778 sekian sekian , di ON AIR in di radio beken itu, gue yang pada waktu itu lagi seneng senengnya dengerin radio *percaya deh, jika kamu suka dengerin radio, kadar alay mu menurun 80%. namanya keren banget yang jadi contact person nya, Cuma gue ga mau nyebutin, ntar pada kepoo #halaaaah. Dan mulai lah gue sms in ga jelas, dimulai dari
‘Hi, ini emma stone ya(nama sengaja di samarkan), “
“iya, ini siapa, mau beli tiket,
“oh enggak, pengen kenal aja”
“gaje lo, siapa sih lo, don’t text me again, you’re so make me annoying”
“ih kok sombong banget siiik”
Dari kealayan pertama gue itulah*sebenenrnya menggelikan) yang membuat emma stone ini marah.. sampai sampai ada temennya gitu namanya Andrew garfield (namanya di samarin lagi ya). Pertamanya sih bilang
“lo siapa?, jangan ganggu temen gue”
“oooh temen yang mana ya, lo siapa?
“gue WerdAn(sengaja dibalikin dr Andrew) , temennnya emma stone”
“oooh sorry deh. “
SEBULAN KEMUDIAN………
Gue dengan jailnya sms lagi si emma stone just say “hi..”, and she’s reply with the same response when first she’s got text from me .
“siapa, ?”
“yaaaah masa lupa, emang nomer gue nggak di save ya*dengan GR nya…
“ih gaje looo
Dan siWerdan pun beraksi kembali dengan mengsms gue
“ jangan ganggu emma ya, *silahkan tafsirkan sendiri doi ngomongnya dengan nada asar atau sopan
“ ini siapa si*pura pura nanya padahal nomernya gue save
“gue Andrew *kali ini ngaku, sempet dipikir pikir oooh ternyata ni anak puter puterin namanya dan gue baru ngeeeh dr nama sebelumnya WerdAn.
“ada apa Ndrew ?
“…. ya yang namanya laki laki kalo ada temen cewenya yang diganggu pasti bakal action”
“siapa yang ganggu si, jangan sok tau *bahasa sotoy belum masuk” ada lagi nggak nih hal yang mau lo bahas selain emma, GUE SIBUK padahal sok sibuk)..
“ya sorry deh bro gue ganggu, sorry ya”
“Iyah.!”
Setelah hari hari berjalan dan waktupun terus bergulir jaman kian menunjukan kecerdasannya dengan menghadirkan smartphone, disitulah awal gue mulai bikin akun sosial media, dimulai dari facebook , gue selalu inget naman mereka berdua,kenapa? Karna meskipun menyebalkan, jujur mereka itu orang jakarta pertama yang sms”an sama gue yang memberikan influenced gue ngomong “gue dan elo’. saking keponya gue, gue search nama mereka di kolom pencarian, dan dua duanya ditemukan, akhirnya gue bisa liat muka muka mereka, dan kontek kontekan lagi, tapi si emma stone emang agak sombong, tapi sesombong sombongnya dia, dia tetep bales koment gue. Sementara gue sama andrew bahasnya pun jadi bukan masalah emma, bener kata orang, JAKARTA ITU KERAS, hidup udah cukup lama dijakarta, kekerasan pun menghinggapi sarang kenyamanan gue, ya nggak lebih dari itu, gue sering curhat kehidupan sama si andrew ini, yang ternyata anak seorang aktor kawakan indonesia. Facebook sudah jarang posting, dimulai dari jeda satu tahun buat break kemudian di tahun berikutnya ambil kuliah di jurusan Art director di IKJ, dan dia pun bercerita lewat aplikasi dari korea tadi, semenjak kelulusannya dari SMA kece di jakarta itu dia banyak memberikan definisi definisi dan juga kata mutiara yang lebih realistis dari punyanya mario teguh. Dari situlah gue berangkat menatap dunia dengan real. nyata adanya. Terlebih lagi ketika gue sudah mulai bosan dan drop plus down dengan rumitnya peta untuk menunjukan arah tujuan hidup itu. Simple jawabnya, kenali diri sendiri dulu, jangan lupakan tuhan. Kalo kamu kenal kamu sama tuhan, tuhan pun mengiringi. Intinya bersyukur karna dengan syukur segalanya jadi indah… gue pun lama nggak kontek lagi itu si andrew, apalagi emma yang nomernya udah nggak aktif, facebooknya berisi status terakhir yang dia update beberapa bulan yang lalu, sementara di facebook andrew, sudah tak nampak lagi foto emma, yang awalnya posting foto kondangan serasian pake batik tapi liat endrew udah sama gandengan yang baru aja. Sementara gue nggak mau ikut campur masuk masuk ke urusan pribadi mereka masing masing. Sekarang entah dimana itu emma stone. Kalo andrew sih masih ada, dia udah gue anggep seperti teman nyata. Yang bersedia membalas curhatan gue ketika gue benar benar buntu. Sekarang gue kontek dia kalo lagi bener bener buntu banget. Gue pun sadar, nggak selamanya gue jadi anak kecil yang apa apa setiap ada masalah nyurhat ke abangnya, ngandelin abangnya, adakalanya memang gue harus terjang sendiri. HIDUP ITU PILIHAN , DAN SETIAP PILIHAN PASTI ADA RESIKO, cause what? CAUSE LIFE IS ABOUT TAKING RISK. Kesibukan masing masing lah yang membuat gue merasa kok kayaknya sekarang udah beda banget. Nggak kaya dulu . nggak di setiap gw sms keduanya langsung bales walaupun nyebelin. Make me feel no longer. Ya karna space. Karna kita udah sama sama sibuk. Si emma yang mungkin sekarang dia udah jalan skripsi. Si andrew mungkin lagi bikin film buat tugasnya di kampus, dan gue sibuk dengan kerjaan yang menyita waktu. Hampir tak ada waktu buat kita saling berkirim chat ria. Gue do’akan. Dimanapun kini emma stone berada. Semoga dia sukses dengan jalan hidup yang dia pilih. Begitu juga andrew.semoga yang terbaik apapun menyertaimu. Semoga kita bisa ketemu secara langsungsusah banget jadi anak jaksel., dari situ membuka gerbong buat ketemu emma juga. Sekian.

Cerita Gue ” Dari Mulai Suka Baca Sampe Sekolah Nonformal “

Beberapa hari ini gue mulai seriuskan kecintaan gue akan membaca, menurut gue pribadi membaca adalah salah satu cara biar elo nambah ilmu, entah itu dari apapun yang lo baca, gue si beberapa bulan terkahir sengaja banget nyisain seperempat dari gaji gue yang seharusnya buat jajan seneng seneng nongkri nongkri nonton bioskop bareng temen temen tapi gue pilih buat ke gramedia dan membeli buku apa saja, topiknya sih pernah dari yang berat banget kaya buku motivasi dan juga buku buku novel roman ala remaja gitu, bisa dibilang hanya beberap aja yang boleh gue baca buku motivasi asal jangan yang terlalu lebay ala golden ways gituuuch. Andriewongso dkk. Mungkin boleh lah kalo kaya mas rene suhardono. Selebtwit dan para instagramer yang ngepost foto pake kata mutiara by theyself bisa juga kata mutiara orang kemudian mereka ilustrasikan ke foto . itu keren melebihi keren banget.

Ngomong ngomong soal JIAN ini, sebenernya gue sendiri nggak ngeh sama mood gue, kadang pengenbanget kuliah kadang juga males banget mikirinnya karena mesti lewatin fase ini lah itu lah yang serba ribet, belom lagi jadwal yang bertabrakan sama kerjaan, asli itu bikin gue emosi. Tapi dibeberapa sekmen kehidupan gue yang semakin dewasa ini sepertinya tuhan mulai memberikan dan juga menyadarkan gue supaya tumbuh dan besar serta dewasa kemudian lepas dari ke alayan gue, gue udah mulai tutup facebook, lebih ke nggak nengokin si. Soalnya apa? Di pesbuk tuh isinya nggak lebih dari sekumpulan orang orang yang alay serta pamer pamer doang, dan gue nggak mau tumbuh dalam dunia yang seperti itu, kita real saja. ketika misal abis liburan, yang jadi kenangan Cuma foto tanpa harus update di pesbuk dengan tag beserta status status bernada pamer, gue juga kadang gitu sih, tapi udah mulai sadar, dan dari sini apakah gue mesti bilang kalo alay itu tenrnyata normal terjadi. It’s oke itu normal terjadi, tapi kalo umur sudah dewasa dan tak semestinya jadi anak alay, ya udah nggak normal, dan umumnya, alay itu kan terjangkit kepada mereka mereka para ABG, baru gede, gue 20 tahun, boleh lah dibilang anak remaja, dewasa muda, dan umur untuk bertransisi menuju dewasa muda yang sesungguhnya #eaaaaaa.

Ngomgonin soal JIAN lagi nih, (elaaah dari tadi ngomongin JIAN mulu, sbenernya JIAn itu siapa si bang..?). kenapa gue milih JIAN a.k.a Jurusan Ilmu Administrasi Negara, di awal awal dulu banget pas masih 18tahun itu gue kan sempet kuliah gitu, pertamanya di kampus Bina sarana gitu, udah kedaftar jadi mahasiswa juga, tinggal masuk aja si, cuman itu kejadiannya kan pas banget jeda libur lebaran, dan tradisi kita mausia indonesia . lebaran itu identik sama yang namanya mudik, thats right?. Gue mudik dan ketemu sama salah satu tetangga yang bilang dan lebih ngerti soal dunia perkuliahan, jadi nanggung banget kalo kuliah yang ngabisin tenaga dan waktu plus memeras otak itu selama 4tahun nggak dapet gelar, gue pribadi si memang kuliah itu buat ngejar gelar, nggak munafik lah gue. Tapi tuhan berkat lain, ada aja halangannya buat menuju dunia kuliah itu, ada beberapa sekelumit masalah yang mengharuskan gue untuk stop melanjutkan impian kuliah itu, segala cara udah gue coba buat minta petunjuk tuhan, muali dari sholat tahajud sampe sholat hajat, emang hasilnya nggak ada yang menunjukan ke arah situ( maksudnya kuliah). Akhirnya gue Cuma bisa pasrah dan yaudah lah ya kalo emang takdir jalan hidup gue mengharuskan kuliah , mau muter muter dulu kemanapun gue melewati halaman halaman hidup gue, pasti balik lagi kesitu(maksudnya kuliah lagi). Dan memang sekarang mungkin tuhan lagi ngingetin lagi kalo gue pernah punya impian kuliah, sekarang lagi diingetin nih kayaknya, gue udah nggak punya tanggungan, nyelesein perkara yang ngelibatin soal tanggung jawab ke orang tua udah, selebihnya gue pengen tetep kuliah. Kalo temen temen lain mungkin enak dan terserah mau survive hidupnya kaya gimana juga, mungki juga karena orang tua mereka juga dari kalangan orang yang berada, jadi istilahnya disuatu hari orang tua mereka telah tiada, ada titipan yang bisa dititipin ke anak mereka berupa harta atau ilmu warisan. Balik lagi ngomongin ke gue(daripada ngomongin orang lain). Orang tua gue itu dari kalangan yang nggak berada, harta aja nggak punya, tapi hal itu yang membuat gue bersyukur juga, soalnya apa? Dengan begitu tuhan menuntut gue menjadi manusia yang selalu bekerja keras untuk membahagiakan kedua orang tua gue itu. Gue bersyukur bisa sekolah SMA walaupun nggak formal, intinya kan sama sama belajar dan cari ilmu, dari situ gerbong gue menuju kuliah dibuka, di jaman sekolah paket C ini, gue bener bener di uji soal manajemen gue, manajemen dalam mengatur waktu untuk kerjaan, belajar dan juga diri sendiri, tapi yang ada hanyalah waktu untuk belajar dan juga kerja, bisa bayangin nggak, gue kerja seharian dari bangun jam 05.20 pagi, menghadap tuhan , jam 07.00 nya kerja sampe jam 10.00 buka store dan terus sampe malem jam 10.30 baru nutup store, selebihnya gue pake buat belajar mengerjakan modul modul yang pak kuncoro kasih, modulnya setebel make up nya syahrini*itu sih tipis, ini setebel dompetnya ibu ibu sosialita dikali tiga kali lipat, tebel nggak tuh, dan itu materinya dari jaman sekolah SMP Cuma ada beberapa yang masih di inget*faktornggakbelajardan juga usia. Ada beberapa materi yang kadang di website/blog ini jawabannya A tapi di website/blog lain jawabannya C, gue sih gitu, cari satu materi soal nggak hanya dari satu sumber ajah dan itu yang bikin gue mumet klimaks. Kadang juga sampe ketiduran, itu berlangsung selama kurang lebih 4 bulan aja, tapi karna minimnya waktu utnuk mengerjakannya, maka ini selalu keinget terus selama sepanjang masa perjanalan hidup gue. Maretnya try out dan Aprilnya UN. Setelah itu rasanya beneran kaya anak sekolah yang stress menghadapi UN. Bener bener lepassss, gue nggak peduli mau nanti hasil nilainya jelek atau bagus, yang penting gue sudah berusaha sekuat energi dan otak. Dan juga waktu gue yang digunakannya nggak sia sia. Berkecil hati sih pasti. Disatu sisi ijazah paket c itu keberadaannya seringakali dikucilkan kaya anak tiri gitu. padahal ya sama sama belajar, dan ketika mengerjakan soal UN pun gue sama sekali nggak buka hape karna emang nggak boleh dan soalnya beda beda kan sama bangku sebelah, bener bener ujian banget ini . tapi setelah ijazah keluar begitu liat nilainya gue cukup puas mengingat waktu dan juga energi yang gue sisain buat belajar segitu ya dengan nilai segitu alhamdulillah.. apapun disyukuri, denganbersyukur segalanya jadi indah, gitu si kata temen gue yang anak artis senior ini. Teman yang aktif di aplikasi berchating ria ini , ;). Dan sisi lainnya ijazah paket c itu kadang nggak dianggap,macam lagunya pinkan mambo*nyanyii~~~~~ sebagai kekasih yang taaak dianggaap STOP!!! Apalagi gue jurusan IPS*karna IPA lebih mahal*tripple L. 1,5juta broo perbedaan harganya. Yaudah ambil IPS aja, dan hal yang paling gue sebel adalah respon dan doktrin yang melekat pada kebanyakan orang ketika mendengar paket c itu ya, seolah olah kaya gue nggak belajar. Kaya gue ujian dikasih contekan tinggal bayar sekian juta udah dapet ijazah, ASLI itu nggak ngenakin bingitz pake Z kaya maudy di iklan mie instan.tapi gue juga respect sama sebagian orang diantara mereka yang mau menghargai paket c.buat yang sebagian lagi, mbok yaa jangan salah kaprah gitu lah menilai para lulusan paket c.